Kolam Bikin Korban, Pemerintah Jangan Lari dari Tanggung Jawab

SAMARINDA – Kolam maut yang merenggut nyawa Nurul Huda Aulia (11), Selasa (20/11) lalu, terjadi lantaran faktor proyek pemerintah. Yakni pengerjaan jalur pendekat menuju jalan tol yang menghubungkan Samarinda-Balikpapan. Mirisnya, setelah tewasnya bocah kelas V sekolah dasar (SD) itu, belum jelas siapa yang harus bertanggung jawab.

Meski pihak keluarga sudah mengikhlaskan kepergian korban, namun, tidak menutup kemungkinan, kejadian serupa terjadi kembali jika tak ada keseriusan dari instansi terkait untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Kapolresta Samarinda Kombes Pol Vendra Riviyanto yang ditemui awak media ini menuturkan, jajarannya sudah melakukan penelusuran. Bahkan sampai tiga kali guna memastikan benar-benar lokasi tersebut. “Keterangan warga yang beraktivitas di sekitar lokasi. Itu memang bukan lubang tambang,” tegas perwira melati tiga tersebut.

Vendra menuturkan, polisi juga tidak bisa memaksakan dari keterangan yang bukan disebutkan. “Semuanya dituangkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP),” tambah Vendra.

Akademisi Universitas Mulawarman Ivan Zailani Lisi turut berkomentar terkait peristiwa nahas yang menimpa Nurul, Sabtu (24/11). Menurutnya, bekas galian tambang atau bukan, peristiwa yang merenggut nyawa itu bukan masalah sepele. “Bukan perkara takdir,” ujar Ivan. Jika masalah ini tidak tuntas, lanjut Ivan, tentu bisa saja korban-korban berikutnya selalu ada. Namun, keberadaan kolam sedalam sekitar 5 meter itu terbentuk lantaran adanya pengerjaan proyek pemerintah. “Kalau sebelumnya ada faktor perbuatan manusia, siapa yang mengerjakan ya harus bertanggung jawab,” sambung Ivan.

Menurutnya, pemerintah sekarang harus mengevaluasi seluruh kegiatan yang bersinggungan dengan alam. Selain itu, Ivan meminta aparat penegak hukum, dalam menyelesaikan perkara harus tetap pada jalurnya. Tidak ada istilah “berat sebelah” dalam menangani masalah. “Posisi polisi harus jelas. Dan setiap pengerjaan, biasanya ada kajian dengan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal),” tegas Ivan.

Ditegaskan Ivan, meski itu dikerjakan perusahaan untuk membuka lahan, muaranya tetap ke pemerintah. Pasalnya, proyek tersebut adalah kendali pemerintah. “Artinya jelas, tidak boleh lari dari tanggung jawab,” tegas Ivan.

Sebelumnya, peristiwa itu bermula ketika Nurul dan lima teman lainnya menikmati hari libur. Bersama lima rekannya hendak bertolak ke Kompleks Perumahan Bumi Prestasi Kencana (BPK), Samarinda. “Saya bilang enggak usah, jauh,” sebut Rahmadini (13), saksi kunci peristiwa tersebut. Nurul pun memberi saran ke Danau Merindu, yang sama sekali tak diketahui Dini –sapaan akrab Rahmadini.

Lagi-lagi, perempuan itu menolak ajakan gadis yang terakhir mengenakan pakaian muslim merah dengan motif seperti batik. “Enggak usah,” tolak Dini dengan pelan. Akhirnya, Dini, Nurul, Gina Fauziah (11), Sani (8), Fahriel (11), dan Refaldi (11) memilih menyusuri jalan setapak yang menembus hutan dan persawahan. Hingga tiba akhirnya di puncak, dekat kolam.

Sementara tiga anak laki-laki berenang di kolam, tiga anak perempuan lainnya berswafoto, dengan latar belakang bukit dan pohon-pohon, serta perumahan yang terlihat kecil dari kejauhan. Puas berfoto-foto, Nurul pergi ke tepi kolam. “Dia cuci kaki,” ujar Dini. Tiba-tiba, tubuh remaja yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) itu terpeleset. “Dia (Nurul) sempat tarik tangan Gina, terus tangan saya ditarik juga. Terus teriak minta tolong,” jelasnya.(*)

 

Sumber berita: http://kaltim.prokal.co/read/news/346124-kolam-bikin-korban-pemerintah-jangan-lari-dari-tanggung-jawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *